Apakah yang ada di benak mereka?

Melihat ibu saya yang sudah semakin menua dan rapuh, membuat saya semakin takut kehilangan dia. Entah kapan itu saatnya, yang pasti saat itu akan tiba. Dan rasanya sampai detik ini saya takut membayangkannya. 😦

Dan yang bikin saya paranoid adalah, beliau ini sering sekali mimpi..dari dulu udah hobby mimpi hehhe 😀  dan selalu menafsir-nafsirkan mimpinya itu. Mimpi ketemu Alm. Bapak atau Abang, mimpi didatangi para mendiang kerabat yang sudah mendahuluinya, mimpi ada pesta, mimpi membuat rumah, dll.. pokoknya mimpi-mimpi yang dia artikan pada akan datangnya berita kematian, entah itu orang lain atau mungkin buat dirinya. 

dedeopungboboKadang saya merasa beliau hanya terlalu melebih-lebihkan dan menghubung-hubungkan saja, biarpun sesekali mimpinya itu kadang terbukti bahwa benar ada berita dukacita dari kerabat. Kalau indikasinya memang kerabat dekat/jauh yang meninggal, saya masih tidak terlalu parno. Tapi kalau beliau sudah *sok-sok* menafsirkan bahwa kematiannya sudah dekat, sayapun jadi ciut. Dan biasanya saya menanggapinya dengan dingin atau  kadang sedikit marah, trus mengingatkan kembali, yang penting kita siap pada waktunya Tuhan panggil. Toh mati itu gak harus tua dulu,  bisa saja yang muda-muda jg mati..  kadang saya nyeletuk: “..bisa aja nanti malem atau besok , tiba-tiba aku yang mati duluan!” Gak ada yang tau itu. Kematian akan datang bagaikan pencuri.. 

Tapi sikap dingin dan marah saya itu sebetulnya hanya kedok saya aja, bahwa saya sebetulnya GAK MAU denger cerita-cerita atau tafsir2an mimpi kayak gitu…intinya : Mamak pasti panjang umur! Mamak harus minta ke Tuhan kasih kekuatan dalam masa tua mamak.. dikasih kesehatan yang sempurna, kalaupun harus mati tidak harus menderita..   MAMAK BELOM BOLEH MATI..!! -_-  

Saya jadi berusaha memposisikan diri saya sebagai wanita yang sudah tua berumur 73 tahun. Dan jadi bertanya-tanya : “gimana ya perasaan mereka di masa-masa tua mereka sekarang ini?” Dimana memang saat-saat ini lah *mungkin* mereka merasa waktunya sudah habis di dunia ini. Kalo menurut Mazmur 90:10;

 Masa hidup kami tujuh puluh tahun  dan jika kami kuat, delapan puluh  tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan;

Jleb. Ini adalah ayat dari perikop Mazmur yang wajib dibaca dan direnungkan sama-sama di setiap Malam Tahun Baru. Dan bernafas lega dan bersyukur mamak masih ada ditengah-tengah kami sampai detik ini. 

70 tahun dan jika kuat 80 tahun. Entah apa yang berkecamuk di benak mereka setiap membaca ayat ini? Bahwa batas umur kita sebetulnya sudah ditentukan sekian. Jadi mungkin wajar saja ya setiap mereka bermimpi hal-hal yang berhubungan ke arah situ, mereka merasa “sekarang waktunya…sekarang waktunya..” 😦 😦 

Terlebih setiap kali dapat berita duka cita dari kerabat-kerabat yang seumuran/se-angkatan dengan mereka.. rata-rata sih  mereka yang sudah berumur 65 tahun ke atas dan sebagian besar memang sudah dlm keadaan sakit keras. Satu per satu dari merekapun di panggil sang Kuasa. 

Tinggal mereka yang masih sempat untuk melayat dan ikut menguburkan jasadnya, menyisakan kenangan. Dalam nyanyian penghiburan yang mereka lantunkan kepada sanak saudara yang ditinggalkan oleh Almarhum/mah, saya bertanya-tanya :

“apa yang ada di benak mereka?” Takutkah? atau sudah berserah dan siap?  !__! -_-

#random thoughts part 2 #selfnote 

Rest in Peace (RIP)

Belakangan sering denger kabar dukacita dari kerabat jauh maupun dekat, bahkan dari teman-teman seperjuangan satu sekolah. Tiba-tiba si A teman kampus sudah pergi menghadap Tuhan, si B teman satu SMA, si C relasi kantor dulu juga sudah pergi, si D mantan vendor saya tiba-tiba terkena stroke dan akhirnyapun RIP. Atau orang-orang dari kalangan artis, baru -baru ini artis Ricky Johanes dan Ustadz Uje juga dipanggil Tuhan dalam usia muda mereka. 

Random thoughts come up in my mind? When would be my turn? Kadang suka iseng aja ini pikiran …kira-kira kapan dan dengan cara apakah nanti Tuhan menjemput saya ya?

Nanti : 5 – 10 more minutes, could be tonight, besok, lusa, minggu depan, bulan depan? 😀 Dear Lord God, hanya Kasih KaruniaMU saja kalau aku masih ada di sini bersama suami, anak-anak, orang tua dan saudara-saudara terkasihku. Terima Kasih ya Tuhan. 

Ya begitulah kira-kira pertanyaan misteri yang sering ada di pikiran saya. Kabar terakhir yang saya dengar beberapa bulan lalu waktu saya melihat reminder Ulang Tahun di Facebook saya. Di situ muncul nama yang saya kenal, seperti biasa saya suka spontan mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada mereka. Gak selalu sih, hanya yang saya kira saya mengenalnya saja. Itupun kalau pas kebetulan lihat. 🙂 

Beliau seorang relasi kerja waktu saya masih di dunia persilatan hehe.. Waktu itu saya melihat di Wall FB, kakak saya (kebetulan relasi kerja beliau juga) mengucapkan Ulang Tahun, dan berniat untuk nebeng ucapan di situ. Tapi sebelum jadi mengucapkan, alangkah terkejutnya waktu saya membaca komentar di bawahnya, seseorang yang mewakili menjawab sekalian memberi tau bahwa beliau sudah pergi bebebapa hari lalu menjelang Ultahnya.. hanya 4 hari yang lalu. -_-  Padahal beberapa hari lalu itu saya msh sering membaca postingan dia di FB, karena beliau lumayan aktif memposting kegiatannya.  Ahh..semoga Istrinya yang setau saya baru saja melahirkan anak ke-3 mereka itu dan juga anak-anaknya yang masih kecil itu  di beri kekuatan dan penghiburan sejati. Rest in Peace, Sobat.. 

Apakah saya takut mati? sepertinya bukan matinya yang saya takutkan, somehow.. Terlepas dari saya siap atau tidak siap yaa… KITA MEMANG HARUS SIAP! 

Bukan matinya yang saya takutkan! Saya lebih takut kehilngan waktu saya bersama anak-anak saya..bersama keluarga saya. In short words, saya masih ingin bersama-sama mereka, ingin melihat mereka tumbuh menjadi dewasa, membesarkan mereka. Kalau melihat wajah-wajah sedih Istri/Suami/Anak-anak dari mereka yang dipanggil Tuhan, saya suka kepikiran : bagaimana mereka kalau saya ‘pergi’? Raruna pasti akan desperately nyari-nyari mamanya kali ya..? 😀 Aduh pikiran ini membuat hati saya sedih.. -_-

Thats why.. saya tidak takut mati..tapi saya takut membayangkan mereka tanpa mamanya.. 😦 *GR ya* 😀 

Well it cuma random thoughts yang selintasan suka datang dalam pikiran ketika saya mendengar berita-berita duka yang selalu menyisakan cerita sedih. Tidak membuat saya jadi manusia yang khawatir akan kehidupan. Menjalani kehidupan dengan selalu mengucap syukur dan berserah kepada pemilik Hidup akan membuat hidup kita menjadi damai, tenang dan teduh. 

Hilangkan sungut-sungut ya, Bet! #selfnote hehe.. LIfe is short! I decided to be cheerful, bersukacita ah selalu hai jiwaku, manfaatkan hari-hari dengan hal-hal yang baik dan menyegarkan jiwa. Lebih baik lagi dalam segala hal.. jadi ISTRI yang LEBIH BAIK, jadi MAMA yang LEBIH BAIK buat RARUNA, jadi ANAK yang LEBIH BAIK dan BERBAKTI buat Mamakku..(huhuhu Mamakkkk..ampuni anakmu ini yaaa… please jangan pergi dulu sebelum anakmu ini merasa benar2 bisa membuktikan untuk membanggakanmu..-_- ).

Jadi ADIK dan KAKAK yang LEBIH BAIK buat saudara-saudaraku, jadi SAHABAT yang LEBIH BAIK buat teman-temanku..

Biarlah *mudah-mudahan* saya bisa menjadi sesuatu yang BAIK buat mereka, buat kalian semua..  Biarlah kelak bila nanti saya emndapatkan giliran ‘absen’ oleh Tuhan, *mudah-mudahan* bisa menyisakan kenangan yang baik di dunia ini 🙂 

To all yang sudah mendahului.. May you all Rest in Peace. I see you all ‘there’ later.. 

6.53am. Mari back to routine 😀